Pengertian Resiko Bank (Bank Risk) dan Jenis/Macam Resiko Bank (Bank Risk) Part 1

Sebelum membahas tentang resiko bank, akan dibahas dulu pengertian tentang resiko (risk). Apa itu resiko (risk)? Menurut ISO 31000 (2009) / ISO Guide 73:2002, definisi dari resiko (risk) adalah “the effect of uncertainty on objectives. Ketidakpastian mencakup peristiwa (yang mungkin atau tidak mungkin terjadi) dan ketidakpastian yang disebabkan oleh ambiguitas atau kurangnya informasi. Ini juga mencakup dampak negatif dan positif pada tujuan.

Kemudian, apa sih resiko bank (bank risk  itu? Menurut Siamat (2005:279) bahwa resiko usaha bank atau business risk bank merupakan suatu tingkat ketidakpastian mengenai pendapatan yang diperkirakan akan diterima. Pendapatan dalam hal ini adalah keuntungan bank. Resiko bank merupakan resiko yang mungkin akan dihadapi oleh bank dan resiko tersebut diperhitungkan untuk mengetahui apakah keberadaan bank saat ini dapat menghadapi resiko yang mungkin muncul. Resiko yang telah dihitung tersebut kemudian dianalisis apakah mempengaruhi keuntungan perusahaan di masa yang akan datang. Hal ini tentu mempengaruhi pihak manajemen untuk melakukan manajemen laba untuk mengantisipasi apabila resiko yang dihadapi bank berdampak jelas pada laba yang tertera dalam laporan keuangan yang nantinya akan digunakan oleh investor sebagai bahan pertimbangan untuk berinvestasi di bank tersebut.

Semakin tinggi ketidakpastian pendapatan yang diperoleh suatu bank, semakin besar kemungkinan resiko yang dihadapi dan semakin tinggi pula premi resiko atau bunga yang diinginkan. Resiko usaha yang diteliti pada artikel ini yaitu operational risk, systematic risk dan total risk sebagaimana telah diproksikan sebagai resiko bank pada penelitian Abaoub, Homrani dan Gamra (2013).

Resiko Operasional (Operational Risk)

Menurut Bank Indonesia yang tertuang dalam PBI No.05/08/2003 tentang Penerapan Manajemen Resiko Bagi Bank Umum, resiko operasional (operational risk) merupakan resiko yang disebabkan ketidakcukupan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional bank (operational risk). Resiko operasional (operational risk) dapat menimbulkam kerugian secara langsung maupun tidak langsung dan kerugian potensial atas kehilangan meraih kesempatan memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Mendukung pernyataan dari Bank Indonesia, Helbok dan Wagner (2005) menjelaskan bahwa “operational risk is defined as the risk of direct or indirect loss resulting from inadequate or failed internal processes, people, and systems or from external events”. Kegagalan atas proses internal, pihak yang bersangkutan, dan sistem perusahaan bersangkutan  yang menghasilkan resiko operasional (operational risk) pada suatu perusahaan.

Dalam kegiatan operasional perusahaan, hal-hal seperti pendendalian internal, pihak yang terlibat, sistem yang berlaku merupakan faktor dalam mengukur resiko operasional yang tercermin pada kegiatan operasional perusahaan. Dengan meningkatnya resiko operasional (operational risk), perusahaan dapat mempengaruhi praktek manajemen laba pada suatu perusahaan. Apabila suatu perusahaan memiliki kegagalan fungsi proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional bank dan tercermin pada menurunnya tingkat laba. Hal ini yang memicu terjadinya praktek manajemen laba. Sesuai dengan penelitian Abaoub, Homrani dan Gamra (2013) dan Mohammad, Wasiuzzaman dan Zaini (2011) yang menunjukan pengaruh yang signifikan antara resiko operasional (operational risk) dengan manajemen laba.

Selanjutnya akan dibahas jenis resiko bank (bank risk) lainya, yaitu operational risk (resiko operasional) dan total risk (resiko total) pada artikel selanjutnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *