Pengertian Resiko Bank (Bank Risk) dan Jenis/Macam Resiko Bank (Bank Risk) Part 2

Pada artikel sebelumnya, dibahas tentang pengertian resiko bank (bank risk), lainya, yaitu systematic risk (resiko sistematis) dan total risk (resiko total). Pada bagian ini akan dibahas mengenai jenis resiko bank (bank risk) lainya yaitu operational risk (resiko operasional) dan total risk (resiko total).

Resiko Sistematis (Systematic Risk)

Istilah sistemik diambil dari kata sistem. Kegagalan sistemik berarti kegagalan yang menyebabkan kerusakan secara menyeluruh pada sistem. Resiko sistemik (systematic risk) pada sistem perbankan disebabkan oleh adanya korelasi yang tinggi dari kegagalan yang terjadi pada bank di suatu negara, sejumlah negara atau secara global. Resiko sistemik  (systematic risk) juga bisa terjadi pada bagian yang lain dari sektor keuangan dan bisa berdampak secara domestik maupun transnasional.

Menurut Kaufman dan Scott (2003) mendefinisikan bahwa resiko sistemik (systematic risk) merupakan suatu peluang terjadinya kerugian komulatif dari suatu kejadian yang membentuk suatu deret kejadian yang beruntun sepanjang suatu rantai dari institusi-institusi atau pasar yang membentuk suatu sistem. Pendek kata, systemic risk is the risk of a chain reaction of falling interconnected dominosDefinisi ini konsisten dengan definisi Bank for International Settlements (BIS). Menurut BIS, resiko sistemik (systematic risk) itu adalah “the risk that the failure of a participant to meet its contractual obligations may in turn cause other participants to default with a chain reaction leading to broader financial difficulties”. Semua definisi mengenai resiko sistemik  (systematic risk) mengarah pada kehancuran suatu sistem, tidak perduli apapun penyebabnya.

Berdasarkan pada definisi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK), yang dimaksud berdampak sistemik adalah:

“Berdampak sistemik adalah suatu kondisi sulit yang ditimbulkan oleh suatu Bank, Lembaga Keuangan Bukan Bank, dan/atau LKBB lain sehingga menyebabkan hilangnya kepercayaan terhadap sistem keuangan dan perekonomian nasional.”

Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/31/PBI/2008 tentang Fasilitas Pembiayaan Darurat untuk Bank Umum, pada Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat (8) terdapat istilah Dampak Sistemik, yang selanjutnya didefinisikan sebagai berikut:

“Dampak sistemik adalah potensi penyebaran masalah (contagion effect)     dari satu bank bermasalah yang dapat mengakibatkan kesulitan likuiditas bank – bank lain sehingga berpotensi menyebabkan hilangnya kepercayaan terhadap sistem perbankan dan mengancam stabilitas sistem keuangan.”

Secara umum, resiko atau dampak sistemik sering didefinisikan sebagai peluang hancurnya suatu sistem secara keseluruhan, bukan hanya dari suatu bagian individual dari sistem tersebut melainkan bisa dari korelasi antara semua bagian yang ada dalam sistem tersebut (sudah tentu tingkat resiko berbeda sesuai dengan lapangan yang terkena dampak).

Dengan keadaan yang mengarah pada kehancuran dan hilangnya kepercayan masyarakat terhadap bank, manajemen melakukan berbagai macam cara untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap bank sehingga bank terhindar dari kehancuran. Cara yang dilakukan manajemen yaitu melakukan praktek manajemen laba. Sebagian bank yang dapat bertahan berusaha untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan cara memperbaiki kinerjanya (Ramadaniar et al., 2013). Sesuai dengan penelitian Mohammad, Wasiuzzaman dan Zaini (2011) yang menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara resiko sistematis (systematic risk) dengan manajemen laba yang diakibatkan oleh krisis ekonomi yang terjadi. Namun dalam penelitian Abaoub, Homrani dan Gamra (2013) menunjukan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara resiko sistematis sistemik (systematic risk) dengan manajemen laba hal ini dikarenakan dalam penelitiannya resiko sistematis  (systematic risk) tidak dapat menjelaskan praktek manajemen laba. Hal inilah yang masih menjadi perdebatan dan oleh karena itu variabel ini digunakan untuk diteliti pada bank di Indonesia.

 Resiko Total (Total Risk)

Menurut Frensidy (2010) resiko total (total risk) merupakan resiko yang diukur dengan standar deviasi yang dihitung dari gejolak turun-naiknya atau volatilitas harga. Total resiko (total risk) ini terdiri atas dua komponen utama yaitu resiko sistematis dan resiko nonsistematis. Indra (2006) menyatakan bahwa manajemen investasi modern dikenal pembagian resiko total (total risk) investasi ke dalam dua jenis resiko, yaitu resiko sistematis  (systematic risk) dan resiko tidak sistematis  (unsystematic risk). Resiko sistematis  (systematic risk) merupakan resiko yang berkaitan dengan perubahan yang terjadi secara keseluruhan di mana perubahan pasar tersebut akan mempengaruhi variabilitas return atas suatu investasi. Sedangkan resiko tidak sistematis  (unsystematic risk) merupakan resiko yang tidak terkait dengan perubahan pasar secara keseluruhan tetapi lebih terkait pada perubahan kondisi mikro perusahaan penerbit saham. Resiko tidak sistematis  (unsystematic risk) bisa diminimalkan dengan melakukan diversifikasi investasi pada setiap jenis saham.

Penggabungan antara perubahan pasar (sistematis) dan perubahan kondisi mikro perusahaan (tidak sistematis) dapat tercermin pada standar deviasi return saham yang dijadikan dasar analisis untuk mengetahui resiko total (total risk) dalam suatu perusahaan. Dengan perhitungan tersebut perusahaan dapat menganalisis apakah keadaan perusahaan saat ini mampu untuk menghadapi resiko total (total risk) yang akan terjadi pada periode saat ini atau periode yang akan datang. Oleh karena itu perusahaan dapat mempersiapkan kondisi perusahaan agar mampu dan tidak terpengaruhi oleh resiko total (total risk). Dengan adanya gabungan antara resiko sistematis  (systematic risk) dan tidak sistematis (unsystematic risk) yang ditunjukan pada turun-naiknya atau volatilitas harga, memicu manajemen untuk melakukan earnings management pada suatu perusahaan agar perusahaan tersebut terlihat konsisten memiliki return saham sebagaimana yang diharapkan investor meskipun telah terjadi perubahan pasar dan perubahan kondisi mikro perusahaan. Namun dalam penelitian Abaoub, Homrani dan Gamra (2013) menyatakan bahwa resiko total tidak mempengaruhi praktek manajemen laba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *